Tanggal Hari Ini : 21 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Entrepreneurship Seorang Transmigran
Kamis, 12 Mei 2011 22:52 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Beberapa waktu lalu saya pergi ke daerah pemukiman transmigrasi di Lampung Utara. Mereka berasal dari Pulau Jawa dan Bali, memulai bermukin dan membuka lahan perkebunan di sana sejak tahun 1983. Sebagai sebuah program besar dari pemerintah, setiap keluarga petani mendapat jatah 2 Ha lahan dan biaya hidup untuk 1,5 tahun gratis. Mereka semua juga diberi perlengkapan pertanian dan paket penyuluhan pertanian. Pendek kata mereka datang dengan modal yang sama.

Tahun berganti tahun, mereka sudah mulai dapat memanen hasil jerih payahnya di perkebunan mereka, yakni kebun karet  dan sebagian kebun kelapa sawit.  Ada pula tanaman lainnya seperti singkong, nanas dan sebagainya. Ternyata dengan modal yang sama, perkembangan mereka di kemudian hari sangat berbeda-beda.

Sekarang, setelah 25 tahun berjalan kekayaan mereka  sangat jauh beda. Ada yang sudah memiliki 10 Ha, ada yang 15 ha, tetapi ada juga yang lahannya sudah habis, yang tersisa hanya rumah dan pekarangan saja. Bagi yang sudah habis tanahnya, mereka kini bertindak sebagai petani penggarap alias buruh tani.

Kondisi ini menegaskan bahwa modal bukanlah faktor utama untuk kesuksesan bisnis. Umpamanya saya memberi Anda masing-masing Rp 100 juta untuk modal usaha, 10 tahun yang akan datang di antara Anda ada yang memiliki 300 juta, ada yang 400 juta, ada pula yang nol rupiah, bahkan bisa saja ada yang malah terjerat hutang ratusan juta rupiah.

Dalam kasus petani transmigran yang sekarang hanya sebagai petani penggarap, mereka pada umumnya mengalami hal demikian akibat cara pengelolaan uangnya bukan dengan cara seorang entrepreneur. 

Orang-orang yang berjiwa entrepreneur selalu berusaha mengeluarkan uang yang produktif. Mereka berusaha uang yang keluar tidak hilang begitu saja melainkan menjadi uang kembali dalam jumlah yang lebih banyak. Para petani transmigran yang sukses, sejak awal pandai berhemat. Berhemat itu bukan sekedar mengencangkan ikat pinggang melainkan penghematan dalam rangka meningkatkan produktivitas uang. Jadi ketika mereka panen, sebagian uangnya segera disisihkan untuk membuat penghasilan baru yang lebih besar. Sementara itu di tengah masyarakat transmigrasi itu ada pula keluarga yang ingin cepat menikmati hasil. Begitu mereka panen, segera sepeda motor baru, perlengkapan rumah tangga yang lebih mewah, baju yang lebih mahal dan pengeluaran konsumtif lainnya sehingga tak ada sisa dana untuk membuat kebunnya lebih produktif.

Mereka terbiasa hidup boros. Hasil panen ternyata terasa kurang. Mereka pinjam uang ke sana-kemari untuk membeli barang mewah. Beberapa tahun kemudian, ketika kebutuhan hidup semakin tinggi, sementara hutang makin menumpuk, apa boleh buat kebun sebagai aset yang harus dikembangkan, malah harus dijual.

Ini seperti kisah angsa bertelur emas. Alkisah, di sebuah desa ada petani yang kara raya. Ia kaya karena memiliki angsa bertelur emas. Setiap angsanya bertelur, kehidupannya bertambah mewah dan konsumtif, apapun yang bisa dibeli langsung dibeli. Dengan memiliki angsa bertelur emas, dia berani pinjam duit karena dapat dikembalikan dengan menjual telur emas.

Lambat laun hutang makin tak terkendali, dan makin banyak debt colector mendatangi rumahnya. Akibatnya ia minta kepada angsa agar dapat bertelur emas sehari dua kali. Tentu saja tidak bisa. Akhirnya karena ia tidak dapat memperoleh telur emas, ia memutuskan menyembelih angsa tadi dan membedah perutnya dengan harapan sudah ada telur di perut sana. Ia tidak menemukan telur, melainkan angsa mati yang tak dapat bertelur lagi.

Hal yang senada terjadi pada transmigran di Lampung yang saya kunjungi. Mereka yang tidak dapat mengendalikan uang, menjadi boros dan lambat laun hutangnya (hutang konsumtif) semakin menumpuk.  Mereka kehabisan akal hingga kemudian memutuskan untuk menjual perkebunannya yang selama ini bertindak sebagai angsa bertelur emas.

Ujian mental seorang entrepreneur adalah ketika ia mulai mendapatkan uang. Apakah tetap konsisten membuat uang lebih produktif atau langsung tergoda untuk membelanjakan uangnya sebagai uang konsumtif.

Bila anda ingin lulus dari ”ujian mendapatkan uang”, segeralah ingat petuah ini; seorang entrepreneur selalu berusaha mengeluarkan uang untuk menjadi uang yang lebih banyak. Uang yang keluar bisa untuk membuka cabang baru, merekrut karyawan baru atau bisa saja melakukan promosi, atau memperbesar skala usaha. Dan jangan lupa untuk sedekah, pembuka pintu rejeki yang halal dan barokah.

Sukses untuk anda.****

 

Boks// font 6

Penulis adalah Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES), penulis bukubest seller Langkah Jitu Memulai Bisnis Dari Nol, Tujuh Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha, Jangan Pulang Sebelum Menang, dan puluhan buku lainnya.

Email: bambangsuharno@yahoo.com, web:www.komunitaswirausaha.net, www.bambang-suharno.blogspot.com

Telp: 021.70228877



comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari