Tanggal Hari Ini : 24 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Rubrik : Kiat Bisnis
Kamis, 12 Mei 2011 22:59 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Membangun Keberanian

Berbisnis Sejak Muda

            Meli (21), bukan nama sebenarnya. Ia baru lulus dari SMA setahun yang lalu. Wanita berparas putih ini harus mengikuti jejak dua kakaknya, setelah lulus SMA ia harus membuka usaha sendiri. Ia sudah ‘dilepas’ oleh kedua orangtuanya, dan harus berani mencari uang sendiri dengan cara berwirausaha.

            Sebagai seorang perantau di Batam yang lahir dari keluarga pewirausaha, Meli sejak kecil sudah diajarkan hidup dalam ‘keluarga pebisnis’. Maka, sejak kelas 1 SMA ia sudah diperkenalkan dunia wirausaha dengan membantu kakaknya menjaga outlet kecil di sebuah mall yang menjual aneka produk tas, ikat pinggang dan produk asesoris lainnya. Pengalaman selama dua tahun ‘magang’ di kios kakaknya, membuat Meli paham kiat-kiat berbisnis. Termasuk menentukan harga jual, menyenangkan dan melayani pelanggan, serta mengelola keuangannya.  

            Maka, ketika lulus SMA, Meli berani memutuskan menyewa sendiri sebuah gerai kecil di sebuah mall dengan harga sewa Rp700ribu per bulan. Modal awal ia peroleh dari tabungan hasil upah magang,  sedangkan produk-produk seperti tas, asesoris, ikat pinggang yang dijual ia peroleh dengan cara ‘pinjam’ dari gerai kakaknya. Setelah laku ia segera membayar produk-produk ‘pinjaman’ tersebut dengan segera.  Kakaknya memiliki hubungan yang baik dengan berbagai agen distributor tas, ikat pinggang serta asesoris  dan memperoleh supply produk tersebut secara konsinyasi dari seorang agen besar di Batam.   

            Bagi pemilik outlet di mall-mall yang ramai, cukup banyak distributor aneka produk yang menawarkan titip jual, namun Meli belum banyak dipercaya para distributor untuk dititipi produk karena usahanya masih baru.

Awal menjalani usaha, semua dikerjakan sendiri, siang dan malam. Seperti yang dilakukan kakaknya, ia belajar bagaimana mengendalikan perusahaan, belajar tahap demi tahap, dan belajar bagaimana tetap eksis dibelantara persaingan bisnis yang kian ketat di sekitarnya.

 Jika sedang ramai, dengan jam buka dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam ia mampu meraup omzet Rp700ribu hingga Rp2juta/hari, dengan keuntungan yang diperoleh bisa mencapai 5% hingga 20% dari omzet yang didapat.

            Apa rahasianya agar berani membuka usaha di usia yang relatif masih sangat muda? Meli tak mengungkapkannya. Ia hanya menjalani usaha secara sederhana, magang terlebih dahulu kepada keluarga yang menjalankan bisnis, belajar dan mengetahui berbagai permasalahan bisnis berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mengenal tipe dan karakter pelanggan, menghitung perkiraan-perkiraan barang-barang yang laku dan banyak dicari orang, selebihnya semua berjalan sambil belajar di lapangan.

Tidak ada teori-teori kewirausahaan njlimet yang secara khusus ia pelajari, maklum ia hanya lulus SMA. Namun, seperti kakaknya yang belajar menjadi pewirausaha dari kedua orangtuanya, ia harus jeli, hati-hati, dan tidak terburu nafsu untuk membelanjakan keuntungannya dengan barang-barang konsumtif yang tidak perlu. Keuntungannya ia belanjakan untuk membeli produk-produk yang kemudian ia jual kembali. Hasilnya, semakin lama, semakin bertambah produk-produk yang dijual, semakin banyak pula omzetnya.  Tidak heran jika ia berharap tiga atau empat tahun lagi ia bercita-cita ingin memiliki toko tas sendiri, mungkin tidak hanya 1 toko, tetapi dapat 2 atau 3 toko yang dibuka.

Membangun keberanian bisnis juga dilakukan Ahong, anak muda yang menjual aneka produk elektronik. Dengan menyewa kios berkuran 3x5 m seharga Rp7juta per bulan di lokasi mall yang sangat strategis dengan ribuan pengunjung per hari, Ahong mampu mengantongi omzet tak kurang dari 20juta hingga Rp30juta per hari dari hasil menjual produknya. Sayangnya Ahong tak mau berbagi cerita ikhwal menjalankan bisnisnya, termasuk produk-produk yang dijualnya, apakah sama dengan cara Meli saat memulai bisnis?

Di kampus-kampus kini para  pelajar dan mahasiswa dijejali materi kuliah kewirausahaan. Guru-guru dan dosen ‘ditatar’ tentang bagaimana menjadi pewirausaha yang baik. Mengaca dari apa yang dilakukan Meli dan Ahong, menjadi pewirausaha sebenarnya sangat mudah, tak sesulit  yang dibayangkan orang. Tetapi siapa mau ‘nyantrik dan magang’bisnis berbulan-bulan, bertahun-tahun,  sehingga memahami bisnis secara lebih detail seluk beluknyanya? Maunya anak sekarang, lulus sekolah atau kuliah langsung menjadi pebisnis hebat dan kaya, dan melupakan prosesnya! 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari